Mengenal Berkson’s Paradox: Mengapa Restoran Mahal Seringkali Rasanya Biasa Saja?
Beberapa minggu belakangan ini, algoritma Instagram memberikan saya banyak sekali rekomendasi kuliner di Kota Bekasi yang ternyata lokasinya tidak jauh dari rumah. Setelah saya coba lihat, ternyata lokasi kuliner tersebut berbentuk warung makan biasa atau angkringan yang harganya lebih murah dan surprisingly lebih enak dibandingkan rumah makan atau restoran yang harganya lebih mahal.
“Banyak hidden gem ternyata di dekat rumah.”
Begitu pikiran saya.
Saya jadi berpikir pernahkah kita merasa seperti ini:
“Kok kalau restoran yang harganya murah, rasanya enak banget (hidden gem). Tapi kalau restoran yang mahal dan estetik, rasanya seringkali cuma ‘oke aja’ atau malah mengecewakan?”
Hal ini merupakan salah satu contoh dari Berkson’s Paradox. Apa itu Berkson’s Paradox? Apakah berbeda dengan Simpson Paradox yang pernah saya tulis?
Apakah kita pernah merasa dikhianati oleh harga? Kita pesan makanan di aplikasi online dari restoran yang harganya lumayan mahal dan tempatnya estetik tapi makanannya “standar” alias “begitu saja”. Lalu di lain waktu, kita pesan dari warung pinggiran yang harganya lebih murah tapi rasanya malah “juara dunia”. Akhirnya kita membuat kesimpulan:
Makin mahal harga suatu tempat makan, biasanya yang dijual cuma tempat tapi rasanya pasti kalah dengan tempat makan yang lebih murah.
Nah, sebelum kita bikin teori “Hukum Rasa vs Harga”, mari kita bedah pakai statistik. Jangan-jangan, ini adalah fenomena Berkson’s Paradox yang lagi memainkan logika kita.
Logika Seleksi di Mulut Kita
Kenapa kita merasa ada korelasi negatif antara Harga dan Rasa? Karena kita punya filter seleksi saat mau pesan makanan.
Bayangkan ada ribuan restoran di Jakarta. Secara statistik, rasa dan harga itu harusnya random atau malah seharusnya berkorelasi positif (bahan mahal = rasa lebih enak). Tapi, kita sebagai konsumen hanya akan memesan makanan yang:
- Harganya Murah (dengan prinsip: kalau rasa “biasa saja” tidak jadi masalah karena “yang penting kenyang”).
- Rasanya Enak Banget (dengan prinsip: biarpun mahal, kita rela bayar demi self-reward).
Akibat filter yang secara tak sadar kita perbuat, hasilnya restoran yang Harganya Mahal DAN Rasanya Gak Enak tidak akan pernah kita pesan. Restoran-restoran seperti ini hilang dari “radar” pengamatan kita.
Simulasi dengan R
Untuk menunjukkan fenomena Berkson’s Paradox, saya akan buat simulasi 1.000 restoran fiktif dengan harga dan rasa yang acak (sesuai dengan kondisi real). Rasa dan harga akan saya buat dalam bentuk normalized rating -1 sampai 1.
Berikut adalah scatterplot antara rasa dan harga dari semua restoran yang saya buat:

Kita bisa lihat bahwa tak ada hubungan antara rasa dan harga (semua terjadi secara random ~ tidak ada korelasi antara rasa dan harga). Kemudian, secara normal, kita hanya akan memilih restoran yang “murah-murah” atau yang “enak-enak saja. Misalkan saya buat skrip untuk kita memilih restoran dengan kriteria perpaduan antara “murah” dan “enak”.
Berikut adalah plot hasil pemilihannya:

Terlihat bahwa dari selected restaurants kita dapatkan korelasi antara rasa dan harga menjadi negatif dan kuat.
Fenomena ini muncul karena secara tak sadar kita memilih restoran yang memaksimalkan fungsi utilitas yang kita definisikan sendiri. Akibatnya terjadi korelasi negatif pada selected data padahal secara populasi tak ada korelasi yang terjadi.
Kesimpulan
Berkson’s Paradox ini adalah pengingat bahwa sampel yang kita ambil bisa jadi mengandung bias.
Kita sering menganggap dunia ini tidak adil (restoran yang mahal kok rasanya biasa saja), padahal itu karena kita secara sadar atau tidak telah mem-filter pilihan kita. Restoran mahal yang benar-benar enak banget itu ada banyak tapi karena ekspektasi kita sudah terlanjur tinggi di harga mahal, “rasa enak” yang standar jadi terlihat mengecewakan dibanding tempat makan murah yang rasanya “di atas ekspektasi”.
if you find this article helpful, support this blog by clicking the ads.