7 minute read

Beberapa tahun terakhir, olahraga padel benar‑benar jadi buah bibir. Lapangannya bermunculan di mana‑mana—mulai dari pusat kota sampai pinggiran yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan bakal ada arena olahraga kekinian. Olahraga yang mirip gabungan tenis dan squash ini kini sudah naik level: bukan cuma tren musiman, tapi sudah jadi bagian dari gaya hidup, mirip seperti mini soccer saat sempat booming dulu.

Dengan perkembangan secepat ini, wajar kalau banyak investor mulai melirik kota‑kota satelit sebagai target berikutnya. Bekasi, misalnya, punya jumlah penduduk besar, kawasan hunian yang terus tumbuh, dan mobilitas warganya yang tinggi. Tapi muncul pertanyaan penting:

Apakah Bekasi masih cukup “seksi” untuk dibangun lapangan padel baru?

Jangan‑jangan, justru beberapa area sudah mulai penuh dan suplai lapangan hampir mengejar jumlah pemain.

Tantangannya bukan cuma soal “Bekasi layak atau tidak,” tapi lebih ke di mana lokasi yang belum tersentuh dan masih punya peluang besar? Kota seluas Bekasi tentu tak seragam; beberapa kecamatan mungkin sudah punya fasilitas olahraga modern, sementara area lain, terutama yang sedang berkembang pesat—masih kosong melompong. Menemukan titik buta inilah yang bikin perbedaan antara investasi yang strategis dan yang sekadar ikut tren.

Alih-alih menggunakan feeling, kita akan menggunakan data lokasi lapangan eksisting dan algoritma matematika sederhana namun powerful: Voronoi Diagram. Tentu hasil temuan dari Voroni Diagram akan lebih bagus lagi jika digabungkan dengan data target market per area.

Konsep Dasar Diagram Voronoi

Diagram Voronoi membagi sebuah bidang menjadi beberapa wilayah (poligon) berdasarkan jarak terdekat ke titik tertentu (dalam hal ini, lapangan Padel). Artinya: Setiap titik di dalam poligon lebih dekat ke lapangan padel tertentu daripada ke lapangan padel lainnya. Dari area poligon, kita bisa mendapatkan:

  • Poligon Besar: Area layanan luas (kompetisi rendah, potensi underserved).
  • Poligon Kecil: Area layanan sempit (kompetisi tinggi, pasar jenuh).

Untuk data lokasi lapangan padel di Bekasi, saya mengambil dan mengumpulkannya menggunakan Google Places API. Saya dapatkan 28 buah titik lapangan yang ada di Kota Bekasi.

Jika kita lihat, memang beberapa lapangan padel berkumpul di “tengah” kota. Dari peta di atas, saya akan hitung dan buat visualisasi diagram Voronoi berikut ini:

Dari perhitungan Diagram Voronoi yang saya lakukan, Hans Padel Court di Cimuning, Mustika Jaya memiliki “area kekuasaan” terbesar dengan luas sebesar 23.7 \space \text{km}^2. Sedangkan Spin Padel di Marga Jaya, Bekasi Selatan hanya memiliki “area kekuasaan” sebesar 0.59 \space \text{km}^2.

Untuk sebagian investor, mungkin bersaing langsung di tengah kota yang sudah padat untuk berebut “area kekuasaan” menjadi hal yang menarik untuk dilakukan. Cluster persaingan seperti pada area-area di mana banyak titik berkumpul (misal Summarecon atau Galaxy), poligonnya akan kecil-kecil. Ini tanda Red Ocean. Investor yang mau masuk ke area ini biasanya sudah punya atau menawarkan diferensiasi kuat (harga, fasilitas, komunitas).

Sedangkan untuk sebagian investor lain, mereka mungkin akan melihat area-area kekuasaan yang lebih luas untuk di-“ambil” dan di-“pecah” kekuasaannya. Sekarang kita lihat kembali bagian peta Bekasi yang poligonnya paling besar. Apakah itu daerah padat penduduk atau justru area sepi? Sebagai contoh kita bisa melihat “area kekuasaan” Main Padel Pro di Cikunir dan Hans Padel Court di Cimuning. Diagram Voronoi hanya menghitung jarak geometris dan belum tentu berarti potensial secara langsung. Kita perlu melihat kondisi target market di area tersebut.

Poligon besar di area target market padat adalah tambang emas.

Selain itu, kita bisa melihat beberapa lapangan padel di perbatasan Jakarta Timur atau Bogor yang mungkin memiliki catchment area yang terpotong oleh batas administrasi, padahal realitanya mereka juga melayani warga Jakarta.


if you find this article helpful, support this blog by clicking the ads.