Cara Membuat Web Apps dengan Google AI Studio, Github, dan Railway
Weekend ini, linimasa saya dipenuhi oleh pembahasan terkait vibe coding. Apa sih yang dimaksud dengan vibe coding? Berikut penjelasannya:
Vibe coding adalah cara membuat software atau apps di mana kita tidak lagi menulis baris kode (ngoding) yang rumit secara manual, melainkan cukup menjadi “sutradara” yang memberikan instruksi kepada AI. Analoginya seperti memesan kopi di kafe yang sangat canggih: kita tidak perlu tahu cara kerja mesin espreso atau suhu dan tekanan air yang tepat, kita cukup mendeskripsikan vibe atau rasa kopi yang kita inginkan. Kemudian AI akan meracik seluruh resep serta menyajikannya untuk kita.
Fokus utama dari vibe coding ini adalah bukan pada penguasaan kode pemrograman, melainkan pada kemampuan kita untuk menyampaikan ide dan visi secara jelas agar AI bisa mewujudkannya menjadi apps nyata.
Sebenarnya pada awal tahun lalu saya sempat mencoba-coba melakukan vibe coding dari salah satu situs yang viral tapi hasilnya masih bisa dibilang jauh dari kata memuaskan. Menurut saya, saat ini bisa jadi layanan vibe coding yang ditawarkan situs-situs tersebut sudah jauh berkembang dan reliable. Oleh karena itu, saya akan coba membuat satu web apps yang akan saya pakai.
Ketika sedang merenung apps apa yang hendak saya buat, saya berpikir:
Sebentar lagi kan bulan Ramadhan, kenapa gak bikin web apps untuk tracking kuantitas ibadah harian saja?
Inspirasinya berasal dari pengalaman saat sekolah SD - SMA, dimana dulu saya (dan mungkin banyak anak-anak lainnya) disuruh mengisi lembar kerja Ramadhan yang berisi rekap puasa, shalat, infaq, dan ibadah harian lainnya. Lembar tersebut kemudian akan dikumpulkan setelah lebaran.
Walau sekarang sudah dewasa tapi menurut saya lembar tersebut masih sangat berguna sebagai tracking ibadah agar semangat tidak lekas turun di pertengahan hingga akhir Ramadhan. Berdasarkan ini, bismillah saya coba buat web apps-nya.
Rencananya saya akan menggunakan tiga layanan yang berbeda sesuai dengan peruntukannya:
- Google AI Studio untuk membuat coding dan struktur dari apps-nya.
- Github untuk menyimpan coding-nya.
- Railway untuk build web apps berdasarkan repository di Github tersebut.
Langkah I: Google AI Studio
Ada banyak situs yang menyediakan jasa vibe coding namun pilihan saya awalnya jatuh kepada Google Gemini. Saya melihat beberapa video dan shorts yang memperlihatkan kapabilitas dari Gemini untuk build apps. Namun setelah saya coba, ternyata saya baru menyadari bahwa layanan Google yang benar-benar diperuntukkan untuk vibe coding adalah Google AI Studio.

Jadi ini adalah kali pertama saya menggunakan Google AI Studio.
Cukup dengan akun Google, kita sudah bisa mendapatkan layanan vibe coding yang mumpuni. Berdasarkan pengalaman saya, layanan ini free jika kita menggunakan model Gemini yang standar (bukan pro) dan tidak membangun apps skala enterprise. Beberapa keunggulan Google AI Studio ini adalah:
- Free untuk membuat apps kecil-menengah.
- Bisa dikoneksikan langsung ke Github dan dibuatkan repository-nya.
- Bisa dikoneksikan juga ke Google Cloud Console untuk langsung
di-deploy di web.
- Khusus untuk deploying apps, saya memilih untuk men-deploy di Railway karena sudah familiar dan memang berlangganan sejak beberapa tahun silam.
Tampilan awal setelah kita login (atau getting started) adalah sebagai berikut ini:

Saya langsung memberikan prompt di input sebagai berikut:
Buat program berjudul "My Ramadhan Tracker" yang berfungsi untuk memberikan jadwal imsakiyah pada bulan Ramadhan di tahun 2026 ini. Aplikasi berisi:
1. Jadwal sholat dan tracker apakah sholat dilakukan secara jamaah atau sendiri,
2. Lembar pengisian progress tilawah user. User bisa mengisi ayat terakhir yang dia baca. Berikan dropdown list nama surat dalam Al Quran dan numerikal input untuk ayat,
3. Berapa banyak infaq yang dilakukan user pada hari tersebut.
Program ini akan secara otomatis berganti tanggal setiap kali tanggal berubah.
Setelah 11 seconds, kita sudah bisa mendapatkan tampilan web apps yang (hampir) jadi. Oleh karena saya merasa secara tampilan dan fitur masih kureng, kemudian saya melakukan beberapa perubahan sebagai berikut di prompt:
buat fitur berikut:
1. buat shading berwarna lebih gelap pada menu progres tilawah
2. buat mode agar user memilih dark atau day mode
3. Rapikan tulisan mutiara hikmah agar tidak berformat markdown.
Hasilnya tidak serta-merta saya terima. Saya akan coba prompt lagi agar si AI bisa bekerja dengan lebih baik membangun apps yang saya mau:
Iterasi I:
berikan pilihan waktu shalat yang dinamis mengikuti lokasi user. waktu shalat mengikuti waktu resmi dari kemenag RI
Iterasi II:
Pada menu progress tilawah, tambahkan tombol "simpan" sehingga setelah user menekan tombolnya, histori tilawahnya baru tersimpan
Iterasi III:
hilangkan kebutuhan atas API apapun pada program ini
Iterasi IV:
tambahkan tombol simpan pada menu infaq hari ini
Iterasi V:
revisi awal ramadhan jadi besok tanggal 19 februari
lalu atur waktu shalatnya menjadi urutan: maghrib, isya, subuh, dzuhur, ashar
update pergantian hari bukan pada jam 00.00 tapi pada jam 18.00 setiap harinya
update permulaan 1 ramadhan menjadi tanggal 18 februari jam 18.00
Iterasi VI
tambahkan fitur untuk melihat data historikal ibadah sejak hari pertama ramadhan. tambahkan juga fitur mendownload data tersebut ke dalam format excel!
Ternyata dibutuhkan iterasi sampai sekian kali sehingga saya bisa puas dan bisa aman memakai apps ini.

Intinya adalah kita harus bisa mendeskripsikan apa yang kita mau kepada si AI agar dia bisa menyelesaikan apa yang kita inginkan.
Setelah selesai, kita tinggal memindahkan coding yang dihasilkan ke dalam Github. Nah kali ini saya tidak menggunakan fitur auto connect to Github dari Google AI Studio dan memilih cara kuno yakni dengan cara:
- Download coding-nya dalam format zip.
- Unzip ke ke dalam repository Github yang sudah disiapkan.
Langkah II: Github
Di Github saya membuat satu repository baru.

Kemudian saya masukkan semua coding yang dihasilkan ke sana. Proses ini sangat mudah, cukup unzip the zipped files, add, commit, dan push. Hasilnya seperti ini:

Langkah III: Railway
Saya sendiri sudah memakai Railway beberapa tahun belakangan ini untuk men-deploy berbagai macam apps yang saya butuhkan dan juga Shinyapps yang saya buat. Prosesnya sangat mudah, saya pernah menuliskan dua artikel terkait ini di blog.

Saya berlangganan hobby plan dengan usage per bulan 5 USD. Sangat worth bagi saya!
Oke, bagaimana cara men-deploy coding yang ada di repository Github?
Pertama-tama, kita start new project dan hubungkan Railway ke Github. Pastikan Railway mendapatkan akses ke repository kita. Setelah itu tinggal klik nama repository-nya lalu proses deploy akan berjalan secara otomatis.
Hanya ada dua setting yang harus dilakukan, yakni: tambahkan PORT 8080 pada variables.

Kemudian tambahkan custom domain yang diarahkan ke port 8080.

Lalu klik deploy dan tunggu hingga selesai.
Kira-kira begini hasilnya:

Rekan-rekan bisa mencoba menggunakan apps-nya di situs ini: ramadhan.up.railway.app.
Bagaimana terkait datanya?
Beberapa rekan mungkin bertanya, bagaimana dengan data yang saya masukkan ke dalam apps? Apakah saya bisa melihat data ibadah semua user?
Saya jawab: tidak karena data disimpan di cache di local browser masing-masing gadget.
if you find this article helpful, support this blog by clicking the ads.