15 minute read

Pekan lalu, anak sulung saya dirawat di rumah sakit. Di tengah proses perawatan, dokternya meminta satu pemeriksaan tambahan: tes IGRA, untuk melihat apakah ada TB (Tuberkulosis) atau tidak. Awalnya saya kira ini cuma prosedur standar, semacam cek rutin yang akan keluar normal. Ternyata hasilnya positif.

Waktu itu saya cuma bisa diam sebentar di ruang rawat, mencerna kata-kata dokter sambil sesekali melirik anak saya yang masih terbaring dengan infus di tangannya, tidak sepenuhnya sadar apa yang baru saja “ditemukan” dalam tubuhnya.

Yang menarik — dan agak membingungkan buat saya sebagai orang tua — anak bungsu saya ikut dites minggu itu juga, hasilnya negatif. Saya sendiri sebenarnya sudah pernah skrining ke dokter paru Oktober tahun lalu, hasilnya normal. Istri saya bahkan punya riwayat TB tahun 2013, tapi sudah dinyatakan sembuh total setelah menjalani pengobatan lengkap. Jadi dari empat orang di rumah, cuma anak sulung saya yang positif saat ini. Padahal kami tinggal serumah, makan bareng, beraktivitas bersama-sama. Kenapa hanya dia yang kena?

Sebagai orang yang kerjaannya sehari-hari berkutat dengan data, refleks pertama saya begitu pulang ke rumah bukan cuma browsing soal pengobatan, tapi juga: “Sebenarnya seberapa besar sih masalah TB ini di Indonesia? Apakah kasus saya ini “kebetulan saja””, atau ada pola yang lebih besar di baliknya?”

Saya minta bantuan AI agent saya untuk menelusuri data yang ada dan berikut ini hasilnya:

Indonesia dan Gunung Es TB

Coba tebak, negara mana yang punya beban kasus TB terbesar kedua di dunia setelah India?

Jawabannya: Indonesia. Bukan prestasi yang membanggakan tentu saja. Berdasarkan Global TB Report 2024_, diperkirakan ada 1.090.000 kasus TB baru setiap tahun di negara kita, dengan 125.000 kematian. Kalau dihitung-hitung, itu setara dengan 14 orang meninggal karena TB setiap jam, atau dua orang setiap lima menit.

Angka yang bikin saya berhenti sejenak: dari estimasi satu juta kasus per tahun itu, hingga Agustus 2025 pemerintah baru berhasil mencatat sekitar 509 ribu kasus — atau 47% dari target. Artinya lebih dari separuh kasus TB di Indonesia diperkirakan belum terdeteksi sama sekali. Mereka batuk-batuk di rumah, mungkin dikira flu biasa atau “cuma kecapean,” sambil terus menularkan ke orang-orang di sekitarnya tanpa disadari.

Ini persis seperti fenomena gunung es yang biasa saya temui waktu bahas wabah campak dulu: angka yang kelihatan di permukaan cuma sebagian kecil dari masalah yang sesungguhnya.

Anak vs Dewasa: Bukan Cuma Soal Skala

Nah, ini bagian yang paling personal buat saya. Pada 2024, dari sekitar 885 ribu kasus TB yang berhasil ditemukan, komposisinya seperti ini:

  • 496 ribu kasus pada laki-laki dewasa.
  • 359 ribu kasus pada perempuan dewasa.
  • 135 ribu kasus pada anak usia 0-14 tahun.

Sekilas, proporsi anak “cuma” sekitar 15% dari total. Tapi ada satu detail yang membuat saya tertampar: Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes sempat menyebut bahwa penemuan kasus TB anak naik lebih dari 2,5 kali lipat dibanding tahun 2021.

Sebagai orang yang kerjaan sehari-harinya membaca tren data survey dan sales, angka kenaikan 2,5x ini langsung memancing pertanyaan lanjutan di kepala saya: apakah ini benar-benar penularan yang meningkat, atau justru karena deteksinya yang membaik?

Ini penting dibedakan. Sama seperti kasus yang pernah saya bahas soal loyalist survey turun 27% tapi sales cuma turun 15% — angka yang naik atau turun itu bisa jadi bukan cerminan realita, tapi cerminan dari seberapa bagus kita mengukurnya. Kalau tahun 2021 alat deteksi dan awareness-nya masih rendah (apalagi masa pandemi, ketika banyak layanan kesehatan non-COVID terganggu), lalu tahun-tahun berikutnya program skrining diperkuat, ya wajar kalau angka yang “ketahuan” melonjak — padahal jumlah anak yang benar-benar sakit belum tentu ikut melonjak setajam itu.

Bias semacam ini di dunia statistik biasa disebut ascertainment bias — kita mengira sesuatu bertambah parah, padahal kita cuma jadi lebih jago menemukannya.

Tapi ini bukan berarti kita boleh santai. Justru sebaliknya: kalau logikanya benar bahwa banyak kasus anak baru terungkap belakangan ini, itu artinya sebelumnya ada banyak anak yang sakit TB dan luput dari radar sistem kesehatan kita. Entah berapa lama mereka menahan gejala, entah komplikasi apa yang sudah terjadi sebelum akhirnya terdiagnosis.

Kenapa Cuma Anak Saya yang Positif?

Ini pertanyaan yang paling personal, dan jujur saja jawabannya tidak sesederhana “yang lain kebal.” TB itu penyakit yang penularannya sangat bergantung pada durasi dan intensitas paparan, kondisi imun masing-masing individu, dan faktor risiko tambahan seperti usia dan status gizi.

Yang bikin saya makin penasaran, sebenarnya riwayat TB bukan hal baru di keluarga kami. Istri saya pernah kena TB tahun 2013 dan sudah dinyatakan sembuh total. Saya sendiri baru saja menjalani skrining ke dokter paru Oktober tahun lalu — penyebabnya karena batuk yang tak kunjung henti - dan hasilnya normal. Artinya, kalau bicara soal “siapa yang paling mungkin jadi sumber penularan,” riwayat itu sudah lama beres, sudah diobati tuntas satu dekade lalu.

Ini yang membuat saya berpikir dua arah. Pertama, kemungkinan anak saya tertular dari sumber di luar rumah — sekolah, tempat bermain, atau kontak lain yang kami sendiri belum tahu. Kedua, ada juga kemungkinan bahwa infeksi laten bisa “menunggu” cukup lama sebelum aktif, meski di kasus istri saya prosesnya sudah dianggap tuntas secara medis.

Yang jelas, dari data yang saya baca, kelompok yang secara risiko lebih rentan terinfeksi justru termasuk bayi dan anak-anak yang punya kontak erat dengan penderita TB — bukan berarti orang dewasa di sekitarnya otomatis aman selamanya. Kemenkes sendiri menyebut kelompok berisiko tinggi meliputi orang yang kontak serumah/erat dengan pasien TB, ODHIV, perokok, penderita diabetes, bayi, anak-anak, dan lansia.

Anak-anak, terutama balita, memang secara imunologis lebih rentan berkembang dari infeksi laten menjadi TB aktif dibanding orang dewasa yang sistem imunnya sudah lebih matang. Jadi kemungkinan besar: siapa pun sumber paparannya, tubuh anak sulung saya yang paling “kalah” duluan melawan bakterinya — sementara saya, istri, dan anak bungsu, entah karena imun yang lebih siap atau memang belum terpapar cukup intens, masih bertahan di sisi yang aman.

Ini juga menjelaskan kenapa satu temuan data lain terasa relevan buat keluarga saya: cakupan Terapi Pencegahan TB (TPT) untuk kontak serumah penderita TB di Indonesia baru sekitar 8% dari target 72%. Bayangkan itu sebagai funnel — dari seluruh kontak serumah yang seharusnya diskrining dan diberi obat pencegahan, cuma segelintir yang benar-benar tersentuh program ini. Ini funnel paling bocor yang pernah saya lihat, mengalahkan funnel konversi marketing paling buruk sekalipun.

Untungnya di kasus keluarga saya, saya, istri, dan anak bungsu sempat dites juga meski hasilnya negatif — artinya kami cukup beruntung berada di bagian kecil yang justru tertangkap sistem skrining ini, alih-alih luput begitu saja seperti mayoritas kontak serumah lain di luar sana.

Epilog

Setelah menggali semua data ini, ada beberapa hal yang mengubah cara saya memandang situasi keluarga saya sendiri:

Pertama, kasus anak saya bukan anomali. Dia satu dari 135 ribu anak Indonesia yang terdeteksi TB tahun lalu — dan kemungkinan besar ada ribuan lagi yang senasib tapi belum terdiagnosis.

Kedua, fakta bahwa hanya dia yang positif di antara kami sekeluarga bukan berarti ada yang salah dengan sistem imunnya secara khusus. Ini lebih mencerminkan bagaimana TB bekerja: siapa yang kalah duluan dalam “perlombaan” antara bakteri dan imun tubuh, bukan soal siapa yang paling lemah secara permanen.

Ketiga — dan ini yang paling mengganggu saya — gap antara target dan realisasi program TPT (baru 8% dari target 72%) bukan sekadar angka di laporan Kemenkes. Itu artinya ada banyak keluarga lain di luar sana yang tidak seberuntung kami, yang bahkan tidak sempat diskrining sama sekali padahal tinggal serumah dengan penderita TB.

Saya masih dalam proses pengobatan anak saya sekarang — enam bulan ke depan dengan disiplin minum obat setiap hari. Tapi setidaknya, menggali data ini membuat saya merasa sedikit lebih siap secara mental: bahwa kami bukan sendirian dalam menghadapi ini, dan bahwa angka besar di laporan pemerintah itu, pada akhirnya, terdiri dari cerita-cerita kecil seperti yang sedang keluarga saya jalani sekarang.