16 minute read

Piala dunia 2026 sudah bergulir sejak beberapa hari yang lalu. Bagi saya sendiri, entah kenapa antusiasmenya tidak setinggi waktu saya masih muda dulu. Mungkin banyak isu nasional dan internasional yang lebih menarik dibandingkan perhelatan sepak bolak terbesar di dunia saat ini. Jujurly, saya malah belum menonton full match piala dunia sama sekali tapi saya masih sesekali melihat highlights pertandingan-pertandingan yang ada.

Dua pekan yang lalu, saat mengisi podcast bersama senior saya Kang Aristo Labare, kami sempat berdiskusi tentang prediksi pemenang piala dunia 2026. Kami sepakat bahwa untuk mendapatkan model prediksi yang tepat, kita harus menunggu setidaknya hingga semua timnas bermain dua kali. Model yang dibangun harus berdasarkan data statistik pertandingan di event piala dunia-nya. Bukan saat kualifikasi kemarin.

Alasannya sederhana: atmosfer pertandingan di event piala dunia berbeda dengan saat kualifikasi.

Maka dari itu, dari kemarin saya membuat algoritma scraper dari situs resmi FIFA untuk mendapatkan data statistik pertandingan. Kemudian saya membuat satu platform di halaman pildun.ikanx101.com untuk kemudian pada saatnya mempublikasikan model dan hasil prediksi secara berkala. Tentunya hasil prediksi bisa jadi akan berubah-ubah setiap kali setelah pertandingan berlangsung. Rekan-rekan bisa segera meluncur ke situs tersebut!

Sembari menunggu mathcday selanjutnya, dari semua data yang sudah saya kumpulkan hingga 19 Juni 2026 pukul 20.30 WIB, analisa sementara apa yang sudah bisa kita lakukan? Cekidot


Apa Kunci Kemenangan Timnas Sampai Saat Ini?

Kalau kita bertanya kepada pelatih sepakbola mana pun, jawabannya hampir pasti sama: “Pressing lebih keras, kuasai bola, dan banyak-banyakin tembakan.”

Tapi data dari 28 pertandingan pertama Piala Dunia 2026 bercerita sedikit berbeda.

Ada satu temuan yang cukup mengejutkan ketika saya iseng-iseng ngulik statistiknya: tim yang paling banyak melakukan pressing defensif justru cenderung kalah. Korelasi negatif. Bukan positif.

Lho, kok bisa?

Sebelum kita bahas anomali itu, mari kita lihat dulu gambaran besarnya dari sekian puluh data statistik yang tercatat sampai saat ini, mana yang paling berpengaruh terhadap kemenangan?

Data yang Dipakai

FIFA merilis statistik pertandingan yang sangat lengkap untuk Piala Dunia 2026. Dari dataset ini, saya mengambil 56 baris data — masing-masing mewakili performa satu tim di satu pertandingan (28 pertandingan × 2 tim).

Dari 155 kolom data statistik yang tersedia, saya memilih 21 variabel yang paling relevan: mulai dari expected goals (xG), akurasi tembakan, penguasaan bola, akurasi umpan, intensitas pressing, hingga statistik fisik seperti total jarak tempuh dan sprint.

Metodenya sederhana: hitung koefisien korelasi Spearman antara tiap statistik dengan hasil pertandingan (menang = 1, tidak menang = 0). Semakin mendekati +1, semakin kuat hubungannya dengan kemenangan. Semakin mendekati -1, semakin sering statistik itu muncul justru saat tim kalah.

Mungkin rekan-rekan statistikawan kurang setuju dengan pendekatan saya ini tapi menurut saya ini adalah salah satu pendekatan yang paling praktis yang bisa saya lakukan sebelum saya tidur malam ini. Hehe

Hasilnya? Ini yang Paling Menentukan

Grafik di atas merangkum semuanya sekaligus. Tapi izinkan saya highlight beberapa yang paling menarik.

1. Expected Goals (xG) — Juara Pertama dengan r = +0.52

xG adalah metrik yang mengukur “seberapa bagus kualitas peluang yang kamu ciptakan” — bukan sekadar berapa gol yang dicetak. Angka korelasi +0.52 menjadikannya prediktor terkuat dari semua variabel yang dianalisa.

Artinya: tim yang berhasil menciptakan peluang berkualitas tinggi — posisi tembak yang dekat, sudut yang pas, tanpa tekanan penjaga — itulah yang cenderung menang.

Bisa jadi ini berasal bukan dari tim yang paling banyak menyerang. Bukan tim yang paling lama menguasai bola. Tapi tim yang berhasil masuk ke posisi berbahaya.

2. Tembakan ke Arah Gawang — r = +0.45

Satu tingkat di bawah xG, ada jumlah tembakan yang tepat sasaran ke arah gawang. Ini sejalan dengan xG: kualitas peluang yang baik biasanya berakhir dengan tembakan yang terarah.

Yang menarik, total tembakan (semua tembakan, termasuk yang meleset jauh) hanya punya korelasi +0.20 — jauh lebih rendah. Ini konfirmasi bahwa kualitas lebih penting dari kuantitas. Tembak banyak-banyak tidak ada gunanya kalau semua melenceng ke tribun penonton.

3. Akurasi Tembakan — r = +0.35

Masih soal efisiensi serangan. Tim yang menang di Piala Dunia 2026 rata-rata punya akurasi tembakan 42%, sementara tim yang tidak menang hanya 29.9%. Selisih 12 poin persentase — cukup signifikan.

4. Penguasaan Bola — r = +0.25 (Lebih Rendah dari Dugaan)

Ini salah satu yang sering jadi perdebatan di forum bola. Penguasaan bola memang berkorelasi positif dengan kemenangan, tapi nilainya +0.25 — lebih lemah dibanding xG, tembakan ke gawang, bahkan akurasi umpan.

Jadi ya, ball possession itu penting — tapi bukan segalanya. Kalau bolanya dikuasai terus tapi tidak pernah masuk ke area berbahaya, percuma juga.

Dan Sekarang, Anomali yang Menarik Itu…

Kalau kamu lihat grafik di atas, ada dua batang merah yang mencolok di zona negatif: intensitas pressing dan total tekanan defensif.

Korelasi keduanya dengan kemenangan adalah -0.28 dan -0.28. Negatif. Artinya, semakin banyak tim melakukan pressing, semakin besar kemungkinan mereka kalah.

Tunggu dulu — ini bukan berarti pressing itu buruk atau kontraproduktif.

Ini adalah kasus klasik korelasi yang tidak sama dengan kausalitas.

Bayangkan skenario ini: tim A tertinggal 0-1 di menit ke-60. Apa yang mereka lakukan? Mereka mulai pressing lebih agresif, mengerahkan lebih banyak pemain ke depan, mencoba merebut bola dan mencetak gol balasan. Akibatnya, statistik pressing mereka melonjak tinggi — bukan karena mereka tim yang suka pressing, tapi karena mereka sedang dalam kondisi terjepit.

Yang tercatat di data adalah: tim yang banyak pressing = tim yang kalah. Padahal hubungan sebab-akibatnya justru terbalik: karena kalah, mereka jadi pressing.

Seberapa Beda Tim Menang vs Tim Kalah?

Supaya lebih konkret, berikut perbandingan rata-rata antara tim yang menang dengan tim yang tidak menang pada tiga statistik teratas:

Statistik Tim Menang Tim Tidak Menang Selisih
xG (Expected Goals) 1.92 0.94 +1.04 (~2× lebih tinggi)
Tembakan ke Arah Gawang 5.9 3.3 +2.6 tembakan
Akurasi Tembakan 42.0% 29.9% +12.1 poin
Akurasi Umpan 86.6% 82.5% +4.1 poin
Penguasaan Bola 49.8% 43.3% +6.5 poin

Angka yang paling mencolok: xG tim menang hampir dua kali lipat dibanding tim yang kalah. 1.92 vs 0.94. Ini bukan kebetulan — ini cerminan dari kualitas permainan yang secara konsisten berhasil menciptakan peluang berbahaya.

Jadi, Apa Resep Menang Sampai Saat Ini

Kalau harus dirangkum dari data:

1. Ciptakan peluang berkualitas, bukan sekadar banyak menyerang.

xG tinggi artinya kamu berhasil masuk ke posisi tembak yang benar-benar berbahaya. Itu tidak datang dari sekedar banyak bergerak ke depan — tapi dari kombinasi pergerakan cerdas, umpan-umpan tajam, dan penyelesaian yang tepat.

2. Kalau tembak, arahkan ke gawang.

Kedengarannya sepele, tapi selisih akurasi tembakan 12 poin persentase antara tim menang dan kalah itu nyata. Tim yang menang lebih clinical — tidak buang-buang momentum dengan tembakan yang melenceng.

3. Jaga akurasi umpan.

Selisihnya memang hanya 4 poin, tapi di level Piala Dunia, kehilangan bola di area berbahaya bisa langsung jadi gol buat lawan. Bermain rapi adalah fondasi dari segalanya.

4. Penguasaan bola itu perlu, tapi harus dikonversi.

Bola dikuasai terus-terusan tapi tidak masuk ke area berbahaya? Percuma. Possession hanya bermakna kalau berujung pada peluang nyata.

5. Pressing agresif bukan solusi — lebih sering jadi gejala ketertinggalan.

Kalau tim kamu baru mulai pressing keras-keras, mungkin itu sinyal bahwa kamu sedang dalam masalah.

Epilog

Data tidak selalu bicara hal yang mengejutkan, kadang ia hanya mengkonfirmasi apa yang sudah kita rasakan intuitif. Tapi di sini, ada satu pelajaran yang cukup penting: bukan tim yang paling sibuk yang menang, melainkan tim yang paling efisien.

xG, tembakan terarah, akurasi umpan — semuanya bermuara pada satu kata: efisiensi. Menciptakan peluang yang benar-benar berbahaya, menyelesaikannya dengan baik, dan tidak sembarangan kehilangan bola.

Analisa ini masih berbasis data fase grup. Begitu babak gugur dimulai, dinamikanya bisa berubah — pertandingan semakin taktis, tim semakin konservatif, dan satu momen bisa menentukan segalanya. Menarik untuk dilihat apakah temuan ini masih berlaku di babak-babak selanjutnya.

Tapi ini baru pertandingan-pertandingan awal saja. Bisa jadi akan ada pergeseran sepanjang turnamen ini berlangsung. InsyaAllah, saya akan update terus di blog ini dan di platform pildun.ikanx101.com.