36 minute read

Senin pekan ini merupakan hari yang spesial menurut saya. Kenapa? Karena ada satu kejadian yang cukup menghebohkan dan ramai di komplek tinggal saya. Setidaknya bagi saya pribadi, hehe.

Sebagaimana pernah saya ceritakan beberapa tahun lalu, saya ditunjuk sebagai bendahara mushalla di komplek. Walau jika saya pikirkan kembali tadi siang, sepertinya legitimasi saya sebagai bendahara kurang kuat karena ada prosedur yang tidak saya lalui. Namun bukan ini inti cerita di tulisan ini. Saya akan share satu point of view analisa data sederhana yang saya hadapi dalam kasus real di kehidupan sosial masyarakat. Begini ceritanya:


Pada 31 Mei 2026 lalu, saya (sebagai satu-satunya pengurus yang tersisa - karena sesuatu hal) mengundang panitia dan jamaah mushalla di komplek untuk berkumpul setelah shalat Isya. Agendanya simpel, yakni: penyampaian laporan keuangan dan distribusi daging qurban lalu diakhiri ngobrol santai sambil santap makan malam. Dari 66 orang jamaah yang ada di Whatsapp group, hanya 14 orang jamaah yang mendaftar untuk hadir dan nyatanya hanya 11 orang jamaah yang hadir.

Rasionya sangat kecil mengingat sudah menjadi kebiasaan bahwa jamaah yang aktif sebenarnya lu lagi, lu lagi.

Dalam kesempatan itu, ada ide untuk mengambil imam eksternal pada waktu Maghrib, Isya, dan Shubuh agar memudahkan jamaah shalat berjamaah. Kondisi saat ini, waktu adzan dan iqamah punya jeda yang panjang karena saling menunggu jamaah yang berkenan menjadi imam. Oleh karena itu, beberapa orang yang hadir pada rapat tersebut melanjutkan inisiatif tersebut untuk mencari imam eksternal.

Jamaah tinggal datang saat mendengar adzan dan shalat jamaah secara khusyuk. Tidak perlu deg-degan akan ditunjuk sebagai imam saat datang ke mushalla. hehe.

Singkat cerita, pada Ahad kemarin (7 Juni 2026), saya (lagi sebagai satu-satunya pengurus yang tersisa) memberikan informasi kepada jamaah bahwa akan ada imam dari eksternal yang akan hadir di mushalla.

Seperti halnya kebijakan pemerintah, tentu ada jamaah yang pro dan kontra. Suatu hal yang wajar dan bisa didiskusikan (seharusnya).

Lalu pada Senin paginya, saya coba memberikan tanggapan atas saran dan masukan yang diberikan beberapa jamaah:

Terima kasih atas saran dan masukan bapak-bapak semua.

Hal ini sudah dibahas bersama pada rapat pembubaran panitia qurban dan jamaah tanggal 31 Mei 2026 yang lalu.

Tujuan dari inisiatif ini adalah agar adzan dan shalat berjamaah bisa tepat waktu dan tidak perlu lagi saling menunggu siapa yang bersedia menjadi imam.

Tentunya tanggapan saya tersebut kembali ditanggapi oleh beberapa jamaah. Diantara semua tanggapan yang ada, saya melihat dua pernyataan yang cukup menggugah jiwa saya sebagai market researcher. Apa itu?

  1. “Rapat yang diadakan tidak mewakili jamaah secara keseluruhan.”
  2. “Jamaah yang mana?”

Saya coba pelan-pelan meresapi kedua kalimat ini.

Jangan-jangan apa yang kami usahakan ini (baca: mengambil imam eksternal ini) salah.

Jangan-jangan 11 orang jamaah yang hadir (termasuk saya sendiri) tidak bisa dikategorikan sebagai “jamaah”. hehe

Oke, mari kita telaah lagi.

Tentu jika menggunakan prinsip perhitungan jumlah sampling, 11 dari 66 orang sudah jelas tidak mewakili keseluruhan jamaah. TAPI perlu diperhatikan bahwa dari 66 orang member yang ada memang tidak semuanya merupakan member aktif. Bahkan hanya sebagian kecil saja yang rutin shalat di mushalla komplek saya (beberapa jamaah memilih untuk shalat di masjid di luar komplek). Seperti yang saya utarakan sebelumnya: lu lagi, lu lagi.

Jika saya mengambil metode non random sampling seperti judgmental sampling atau convenience sampling lalu menggunakan metode riset kualitatif (dianalogikan semacam FGD), tentu saya bisa membela diri dan mengklaim bahwa 11 orang ini sudah cukup untuk penggalian informasi. Sudah cukup concern terkait imam eksternal bisa ditindaklanjuti menjadi aksi nyata.

Tapi jika direnungi kembali, hal ini tidak mungkin dan tidak bisa saya jadikan pembenaran.

Kenapa? Karena saya masih belum bisa menjelaskan secara robust masalah keterwakilan dan pertanyaan “jamaah yang mana…?”

Oleh karena itu, untuk bisa menanggapi dan menjawab dua kalimat ini diputukan untuk melakukan survey ulang secara tertutup.


Survey Ulang

Ada tiga pertanyaan inti yang ditanyakan pada polling ini, yakni:

  1. Opsi apa yang Anda pilih terkait sistem Imam shalat jamaah di mushalla? (single choice)
    • Opsi 1: Imam eksternal setiap hari
    • Opsi 2: Imam dari internal warga setiap hari
    • Opsi 3: Imam eksternal untuk weekdays dan imam dari internal untuk weekend
    • Opsi 4: Imam eksternal untuk weekend dan imam dari internal untuk weekdays
  2. Jika kelak imam yang dipilih berasal dari internal jamaah, apakah Anda bersedia menjadi imam shalat jamaah?
    • Ya
    • Tidak
  3. Kapan waktu yang Anda komit datang untuk membahas kepengurusan dan lainnya? (multiple choice)
    • Sabtu ba’da Isya
    • Ahad ba’da Shubuh

Quesioner dibuat sesimpel mungkin karena memang kondisinya saya sedang menepi sebentar saat menyetir. Walau demikian, saya rasa ketiga pertanyaan ini cukup bisa menjawab masalah yang dihadapi.

Penyebaran Quesioner

Oke, quesioner sudah jadi. Tugas berikutnya adalah menyebarkannya kepada semua jamaah di grup Whatsapp. Ternyata ada penambahan jumlah jamaah, sehingga sekarang ada 67 orang jamaah. Semua jamaah diminta mengisi survey ini secara mandiri.

Namun masalahnya adalah berapa banyak jamaah yang harus mengisi agar bisa dikatakan bahwa survey ini sudah mewakili jamaah?. Hal ini sangat penting, apalagi pertanyaan “jamaah yang mana…?” menjadi hal yang perlu dijawab secara baik dan benar.

Oke, untuk menentukan berapa banyaknya sampling minimal, ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan. Kalau mau mudah, saya biasa menggunakan sample size calculator dari Raosoft yang sudah sering saya gunakan. Saya juga sudah pernah membahas tentang bagaimana cara menggunakannya di tulisan saya beberapa tahun silam.

Tapi rumus penentuan banyaknya sampling kan bukan cuma satu saja!

Betul! Ada berbagai macam cara. Saya spill empat cara termudah:

Cara 1: Minimal 30 Orang

Ini adalah aturan praktis paling sederhana: ambil saja minimal 30 orang, selesai. Logikanya mirip mencicipi masakan: kamu tidak perlu menghabiskan satu panci penuh untuk tahu apakah sup itu asin atau tidak, cukup beberapa sendok. Angka 30 lahir dari ilmu statistik yang bilang bahwa di atas jumlah itu, data mulai berperilaku “normal” dan bisa dipercaya. Untuk N = 67, sampelnya cukup 30 orang. Kelemahannya: angka ini tidak peduli seberapa besar atau kecil populasimu — 30 dari 100 orang tentu terasa berbeda dengan 30 dari 1.000.000 orang.

Cara 2: 50% + 1 Orang

Metode ini bilang: ambil lebih dari separuh populasi agar hasilmu benar-benar mewakili. Analoginya seperti voting — supaya suara dianggap sah dan mencerminkan mayoritas, minimal harus ada lebih dari 50% yang bicara. Untuk N = 67, hitungannya: 67 ÷ 2 = 33,5 → dibulatkan ke atas jadi 35 orang. Cara ini paling aman untuk populasi kecil karena kamu mengambil porsi yang sangat besar. Tapi untuk populasi jutaan orang, cara ini tidak praktis — kamu harus survei setengah negeri.

Cara 3: Formula Slovin

Cara ini lebih cerdas karena kamu bisa menentukan sendiri seberapa besar “toleransi kesalahan” yang kamu mau (disebut margin of error, dilambangkan e). Rumusnya:

n = \frac{N}{1 + N \cdot e^2}

Semakin kecil toleransi kesalahanmu, semakin banyak sampel yang dibutuhkan — seperti mengukur panjang meja: kalau kamu mau akurat sampai milimeter, kamu butuh penggaris yang lebih teliti dibanding kalau cukup akurat sampai sentimeter. Untuk N = 67 dengan e = 10%, hasilnya: 67 ÷ (1 + 67 × 0,01) = 67 ÷ 1,67 = 41 orang. Kelemahannya: formula ini punya asumsi tersembunyi yang tidak selalu dijelaskan, sehingga kadang dipakai sembarangan.

Cara 4: Formula Cochran

Ini cara paling lengkap karena memperhitungkan tingkat kepercayaan, proporsi, dan margin of error sekaligus. Rumus dasarnya untuk populasi besar:

n_0 = \frac{Z^2 \cdot p \cdot q}{e^2}

Lalu dikoreksi untuk populasi kecil:

n = \frac{n_0 \cdot N}{n_0 + N - 1}

Bayangkan kamu sedang membuat jaring untuk menangkap ikan — formula ini menghitung ukuran jaring yang tepat berdasarkan seberapa banyak ikan yang ada, seberapa sering ikan berenang ke arahmu, dan seberapa kecil lubang jaringnya. Untuk N = 67 dengan asumsi standar (Z = 1,96, p = 0,5, e = 5%), hasilnya: 58 orang. Kelemahannya: paling rumit dihitung dan membutuhkan asumsi awal tentang proporsi yang kadang belum diketahui.

Tabel Perbandingan

Aspek Cara 1 (n = 30) Cara 2 (50% + 1) Cara 3 (Slovin) Cara 4 (Cochran)
Sampel untuk N = 67 30 orang 35 orang 41 orang (e = 10%) 58 orang (e = 5%)
Perlu tahu N? Tidak Ya Ya Opsional
Ada formula? Tidak Sederhana Ya Ya
Bisa atur akurasi? Tidak Tidak Ya Ya
Cocok populasi kecil? Kurang ideal Sangat cocok Cocok Cocok
Cocok populasi besar? Bisa Tidak praktis Cocok Sangat cocok
Kesulitan hitung Sangat mudah Mudah Sedang Sulit

Kesimpulan praktis: Tidak ada satu cara yang selalu terbaik. Untuk populasi kecil dan situasi informal, Cara 1 atau 2 sudah cukup. Untuk penelitian yang butuh akurasi terukur, gunakan Slovin (Cara 3) atau Cochran (Cara 4).

Untuk kasus survey jamaah mushalla ini, saya sih prefer lebih banyak jamaah yang isi, hasilnya lebih representatif.


Hasil Survey

Perolehan Responden

Oke, per tanggal 9 Juni pukul 13.49 WIB sudah terkumpul 45 orang jamaah yang mengisi surveynya. Apakah 45 orang sudah cukup mewakili? Begini cara jawabnya.

Dengan asumsi confidence level sebesar 80%:

Karena populasinya kecil dan terbatas, kita pakai formula dengan koreksi populasi terbatas (Finite Population Correction):

e = Z \cdot \sqrt{\frac{p(1-p)}{n} \cdot \frac{N-n}{N-1}}

Keterangan:

Simbol Nilai Penjelasan
N 67 Jumlah total populasi
n 45 Jumlah sampel yang disurvei
Z 1,282 Z-score untuk CI 80%
p 0,5 Proporsi (asumsi paling konservatif)
e ? Margin of error yang dicari

Langkah perhitungan:

  1. p(1−p) ÷ n = 0,25 ÷ 45 = 0,005556
  2. Koreksi populasi terbatas: (67−45) ÷ (67−1) = 22 ÷ 66 = 0,3333
  3. 0,005556 × 0,3333 = 0,001852
  4. √0,001852 = 0,04303
  5. e = 1,282 × 0,04303 = 0,05516

Hasil: Margin of Error = ±5,52%

Apa artinya?

Confidence level 80% berarti jika kita mengulang survei ini 10 kali dengan cara yang sama, 8 dari 10 kali hasilnya akan masuk dalam rentang ±5,52% tersebut dan 2 kali sisanya bisa meleset lebih jauh.

Dengan 45 jamaah dari 67 orang, kita sudah cukup yakin (80%) bahwa hasilnya tidak akan meleset lebih dari ±5,52% dari kondisi sebenarnya di populasi.

Dari paparan ini, semoga saja para jamaah sepakat bahwa hasil survey ini bisa dibilang mewakili.

Tabulasi Data

Berikut adalah tabulasi data hasil survey.

Pertanyaan pertama.

Opsi imam shalat Jamaah Maghrib, Isya, dan Shubuh:

Pertanyaan ini adalah single choice di mana jamaah hanya bisa memilih satu jawaban saja.

Pertanyaan kedua.

Jika diputuskan Imam berasal dari warga internal CCR, apakah Anda bersedia menjadi Imam di (salah satu atau beberapa waktu shalat) Maghrib, Isya, dan Shubuh?

Pertanyaan ini adalah single choice di mana jamaah hanya bisa memilih satu jawaban saja.

Pertanyaan ketiga.

Jika Mushalla As Salaam hendak mengundang rapat terkait pembahasan kepengurusan dan lainnya, pilih waktu yang Anda komitmen untuk datang:

Pertanyaan ini adalah mutiple choice di mana jamaah hanya bisa memilih lebih dari satu jawaban. Wajar karena bisa jadi jamaah tersebut bisa di dua waktu yang ditetapkan.


Sekarang saya coba tanya kepada pembaca:

Setelah melihat grafik-grafik di atas, apa kesimpulan yang bisa diambil?

Kalau kata saya sih jangan buru-buru ambil keputusan. Akan lebih seru kalau kita coba analisa lebih lanjut.

Analisa Lebih Lanjut

Jamaah yang Bersedia Menjadi Imam

Pada survey ini, tercatat ada 13 orang yang bersedia menjadi Imam. Alhamdulillah, berarti bisa jadi mushalla tidak kekurangan imam dan bisa langsung menggunakan tenaga dari internal.

TAPI sayangnya informasi ini tidak bisa dipakai langsung untuk mengambil keputusan. Kenapa?

Pertama 5 dari 13 orang yang bersedia ini termasuk ke dalam jamaah yang hadir saat pembubaran panitia. Jadi mereka sudah teruji. hehe

Kedua 2 dari 13 orang yang bersedia termasuk ke dalam orang yang aktif di mushalla dan memang sudah sering menjadi imam. Jadi mereka juga sudah teruji.

Ketiga 2 dari 13 orang bisa dikategorikan sebagai jamaah yang tidak rutin datang ke mushalla karena domisilinya tidak tetap di komplek saya. Namun demikian, kedua orang ini berarti bersedia menjadi imam saat berada di komplek.

Keempat 4 dari 13 orang sisanya bahkan saya tidak mengenalnya (wajar karena saya yang relatif warga baru).

Jadi kalau mau dikoreksi, tabulasi yang sebenarnya adalah hanya ada 7+2 orang yang bersedia menjadi imam shalat berjamaah dan cukup reliabel untuk dimintakan tolong.

Kenapa filterisasi ini penting? Sebagai market researcher saya terbiasa untuk menghindari noise sebisa mungkin.

Namun saya tetap berhusnudzon, semoga saja 6 orang lainnya ini tetap mau dan bersedia menjadi imam. Barangkali selama ini mereka belum mendapat kesempatan saja untuk menjadi imam. Alhamdulillah saya sangat senang mendengarnya.

Opsi Imam vs Kesediaan Menjadi Imam

Ada satu pertanyaan yang selalu menggema di kepala saya sejak awal membuat quesioner:

Apakah jamaah yang memilih opsi Imam dari kalangan internal baik saat weekend dan weekdays mau menjadi imam?

Ternyata jawabannya tidak selalu seperti itu.

Saya coba untuk membuat crosstabulasi-nya sebagai berikut:

Keterangan singkatan: HK = Hari Kerja | AP = Akhir Pekan

Opsi Imam (Q1) Tidak Bersedia Bersedia (Ya) Total % Bersedia
Eksternal (HK) & Warga CCR (AP) 8 7 15 46,7%
Imam Tetap Eksternal (HK & AP) 13 2 15 13,3%
Warga Internal CCR (HK & AP) 8 4 12 33,3%
Warga CCR (HK) & Eksternal (AP) 2 0 2 0%
Lainnya / Fleksibel 1 0 1 0%
Total 32 13 45 28,9%

Sebagian besar jamaah yang bersedia menjadi imam berasal dari opsi mixed di pertanyaan pertama. Bagaimana jika saya lakukan filterisasi sebagaimana bagian sebelumnya? Apakah ada perubahan?

Keterangan singkatan: HK = Hari Kerja | AP = Akhir Pekan

Opsi Imam (Q1) Tidak Bersedia Bersedia (Ya) Total % Bersedia
Imam Tetap Eksternal (HK & AP) 13 2 15 13,3%
Eksternal (HK) & Warga CCR (AP) 8 3 11 27,3%
Warga Internal CCR (HK & AP) 8 2 10 20,0%
Warga CCR (HK) & Eksternal (AP) 2 0 2 0%
Lainnya / Fleksibel 1 0 1 0%
Total 32 7 39 17,9%

Polanya sedikit berubah menjadi mirip-mirip apapun pilihan opsi imamnya.

“Jamaah yang Mana?”

Ini mungkin analisa yang paling rumit menurut saya. Rumit karena saya harus bertanya lagi lebih dalam. Berkontemplasi…

Saya harus bisa membedakan mana fakta dan mana opini pribadi saya. Maka saya akan lakukan dengan sangat hati-hati.

Berasal dari prinsip bahwa target responden pada setiap penelitian adalah benar-benar semua orang dengan karakteristik yang dituju dalam penelitian, maka saya bisa saja melakukan filter atau pemilihan responden.


Jika target saya adalah jamaah existing yang sudah sering ke mushalla, maka saya perlu menghapus semua noise yang ada. Konsekuensinya apa? Bisa jadi jumlah responden menjadi drop. Masih ingat kejadian undangan pembubaran panitia? Bisa jadi n respondennya menjadi setengah dari yang ada sekarang. Lalu bisa jadi semua temuan yang ada berubah.

Dibantu oleh beberapa jamaah, kami memverifikasi ada 20 orang yang dikategorikan sebagai target responden dan ini hasil tabulasinya:


Jika target saya adalah semua jamaah yang ada di komplek saya, dengan tujuan agar semua jamaah berpartisipasi dan jadi ingin lebih sering ke mushalla, maka saya tidak perlu melakukan filter apa-apa dan menerima semua fakta yang ada di survey ini.

Justru saya dan beberapa orang jamaah senang sekali jika semua warga muslim yang ada di komplek menjadi aktif meramaikan dan memakmurkan mushalla.

TAPI ada satu plot twist yang terjadi. Masih ingat dengan dua pernyataan penggugah jiwa di atas?

Saya tidak menemukan jamaah yang bertanya: “jamaah yang mana?” di dalam survey.

Hal ini justru membuat saya jadi deg-degan. Kenapa? Jangan-jangan survey ini tidak menargetkan jamaah yang dituju dalam penelitian. hehe

Lantas pertanyaan yang mungkin valid untuk ditanyakan balik adalah: “Apakah Anda jamaah? Apakah saya juga jamaah? Lalu siapakah jamaah yang dimaksud? Apakah arti jamaah? Jamaah, oh jamaah…”

Mungkin hanya Ustadz Maulana yang bisa menjawabnya. hehe

Lanjut analisa selanjutnya saja ya.

Uji Proporsi

Oke, sekarang saya asumsikan saja bahwa 45 orang yang mengisi adalah benar-benar jamaah. Ini adalah analisa yang paling saya sukai dari tulisan ini.

Apa Itu Uji Proporsi?

Uji proporsi adalah cara statistik untuk menjawab pertanyaan: “Apakah perbedaan yang kita lihat itu nyata, atau hanya kebetulan?” Misalnya, dari 45 jamaah, 15 orang memilih opsi A dan 12 orang memilih opsi B. Secara angka sudah berbeda — tapi apakah perbedaan itu cukup besar untuk dianggap bermakna, atau bisa saja terjadi secara kebetulan karena jumlah sampelnya terbatas?

Uji ini menghasilkan nilai p-value: semakin kecil nilainya, semakin kuat bukti bahwa perbedaannya memang nyata. Ambang batas yang umum digunakan adalah p < 0,05 — jika p-value di bawah angka itu, perbedaannya dianggap signifikan.

Apa Itu Uji Proporsi Berpasangan?

Karena ada 5 opsi jawaban, kita tidak cukup hanya membandingkan satu pasang saja. Uji proporsi berpasangan (pairwise) membandingkan setiap pasang kombinasi satu per satu — menghasilkan 10 perbandingan dari 5 opsi yang ada. Hasilnya disajikan dalam tabel matriks: setiap sel menunjukkan apakah dua opsi tersebut berbeda secara signifikan atau tidak.

Hasil Uji

Kesimpulan praktisnya: Tidak ada satu opsi yang secara statistik “menang” di antara tiga pilihan utama.

Artinya keputusan terbaik memang perlu mempertimbangkan faktor di luar angka survey. Musyawarah dan ngobrol dengan cara yang santun mungkin akan lebih bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

Waktu Rapat

Oleh karena musyawarah adalah jalan ninja terbaik saat ini, mari kita lihat detail tabulasinya. Perlu saya ingatkan kembali bahwa pertanyaan waktu rapat bersifat multiple choice sehingga orang bisa memilih lebih dari satu.

Dari grafik sebelumnya kita bisa lihat bahwa opsi Ahad Ba’da Shubuh adalah opsi yang paling banyak dipilih. Tapi apakah ada irisan antara opsi tersebut dengan opsi lainnya? Upset diagram berikut akan memperlihatkan faktanya:

Ternyata hanya ada 1 orang jamaah saja yang bisa di kedua waktu. Sementara dua opsi tertinggi dijawab secara exclusive.

hmm, menarik… Semoga saja jika rapat diadakan pada Ahad Ba’da Shubuh, warga yang yang memilih opsi lain bisa tetap datang.

Epilog

Saya cuma berharap, paparan di atas bisa menanggapi dan menjawab dua pernyataan penggugah jiwa secara sederhana dan santun. Saya juga tidak ingin terjebak ke dalam perdebatan sengit antar opsi. Semangat yang harus dibangun adalah semangat kebersamaan dengan niat yang tulus dan ikhlas. Maka dari itu, apapun hasil surveynya bagi saya pribadi tidak akan saya jadikan pembenaran atas inisiatif yang pernah diambil oleh sebagian jamaah.

Justru saya pribadi malah ingin menarik diri dari segala keriuhan yang terjadi. Saya takut niat saya sudah jauh melenceng dari yang semestinya.

Maka dari itu tidak ada bagian kesimpulan pada tulisan ini. Saya akan biarkan menjadi open agar menjadi renungan bersama:

Untuk apa mushalla didirikan?

Wassalam.