41 minute read

Pada tahun 2023 silam, saya sering mendengar kabar burung bahwa Presiden Habibie dulu menggunakan prinsip fisika termodinamika untuk menstabilkan rupiah saat krisis moneter 1998. Seingat saya, saya membaca satu artikel di mana pada saat itu, Presiden Habibie mengumpulkan para wartawan dan menjelaskan langkah-langkah pemerintah menstabilkan rupiah dengan cara termodinamika tersebut. Tapi karena pada saat itu prinsip termodinamika sangat rumit dipahami oleh para wartawan, jadi tidak ada catatan sejarahnya.

Kembali ke beberapa pekan belakangan dimana nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sedang turun-turunnya, saya kembali bertanya.

Kenapa para ekonom tidak menggunakan cara yang dulu Presiden Habibie lakukan?

Oleh karena penasaran, saya coba minta bantuan AI agent saya untuk mendiskusikan masalah ini. Saya mulai dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Benarkah BJ Habibie menggunakan prinsip termodinamika untuk menstabilkan ekonomi Indonesia saat krisis 1998?”

Saya coba memverifikasi kabar burung tersebut dan akhirnya melakukan penelusuran terkait prinsip fisika apa saja yang bisa dipakai dalam ekonomi.

Catatan:

Artikel ini ditulis dari hasil diskusi saya dengan AI agent asisten pribadi saya. Data dan fakta telah diverifikasi dari berbagai sumber termasuk Habibie Center, Kompas, Detik, arXiv, dan jurnal-jurnal ekonofisika. Tulisan ini adalah opini pribadi berdasarkan data yang tersedia saat artikel ditulis.


Bagian 1: Termodinamika atau Aerodinamika?

Pertama-tama, berdasarkan penelusuran saya dari berbagai sumber. Mulai dari Kompas, Detik, situs Habibie Center, hingga tulisan-tulisan akademik. Setelah beberapa menit, hasilnya jelas.

Klaim bahwa BJ Habibie menggunakan prinsip termodinamika adalah tidak akurat.

Lho, terus yang benar apa?

Yang benar adalah: Habibie menggunakan pendekatan aeronautika dan aerodinamika. Sebagai seorang insinyur pesawat terbang (aeronautical engineer) lulusan Jerman, ia memandang ekonomi Indonesia yang sedang krisis seperti sebuah pesawat yang mengalami stall — kondisi di mana pesawat kehilangan daya angkat dan siap jatuh.

Kesalahan penyebutan “termodinamika” kemungkinan besar terjadi karena keduanya sama-sama cabang fisika dan punya akhiran “dinamika” yang mirip. Cerita dari mulut ke mulut rentan mengalami distorsi seperti ini. Saya sendiri mengaku sempat percaya dengan klaim tersebut selama bertahun-tahun tanpa pernah memverifikasinya.

Tapi mari kita bedah lebih dalam: apa saja sih sebenarnya analogi aerodinamika yang dipakai Habibie?


Bagian 2: Empat Analogi Aerodinamika ala Habibie

Saya membaca dari beberapa sumber, termasuk wawancara Umar Juoro dari Habibie Center dan artikel di Kompas. Ternyata Habibie benar-benar memiliki kerangka berpikir yang konsisten dengan latar belakangnya sebagai ahli pesawat terbang.

Stall — Kehilangan Daya Angkat

Bayangkan pesawat yang sedang terbang. Ketika sudut serang sayap terlalu besar dan kecepatan di bawah minimum, pesawat kehilangan lift alias daya angkat. Hasilnya? Pesawat jatuh. Ini yang disebut stall.

Habibie melihat Indonesia 1998 persis seperti itu. Rupiah jatuh bebas dari Rp 2.400 menjadi Rp 16.800 per dolar Amerika. Ekonomi minus 13,13%. Inflasi 77,6%. Semua indikator menunjukkan bahwa “pesawat” sedang jatuh.

Umar Juoro, ekonom yang dekat dengan Habibie, pernah mengutip perkataan beliau: “Bayangkan pesawat sudah stall, mau jatuh. Saya bisa stabilkan lagi sehingga cruising, descending, dan bisa soft landing.”

Keseimbangan Gravitasi dan Lift

Ini inti dari pendekatan aerodinamika yang dimaksud. Dalam penerbangan, ada empat gaya yang harus seimbang: gaya angkat (lift) melawan gravitasi, dan gaya dorong (thrust) melawan hambatan (drag). Kalau satu saja tidak seimbang, pesawat tidak bisa terbang dengan stabil.

Habibie menerjemahkannya ke dalam kebijakan ekonomi dengan satu kata kunci: keseimbangan. Ia mengambil kebijakan fiskal dan moneter secara berimbang. Tidak terlalu agresif di satu sisi dan melupakan sisi lain. Ini yang membedakan pendekatannya dari teknokrat lain yang mungkin hanya fokus pada satu variabel saja.

Turbulensi — Guncangan Pasar

Setiap pilot tahu bahwa turbulensi adalah bagian dari penerbangan. Tidak perlu panik. Yang diperlukan adalah kendali yang tenang dan sabar.

Sama halnya dengan pasar. Nilai tukar yang berfluktuasi, capital outflow, dan panic selling adalah turbulensi yang wajar dalam krisis. Habibie tidak panik. Ia juga tidak ikut terbawa arus. Ia tetap tenang menjalankan kebijakannya, termasuk ketika IMF dan dunia internasional menekan.

Soft Landing — Pemulihan Bertahap

Pilot profesional tidak akan langsung menarik kemudi ke atas setelah pesawat keluar dari stall. Itu akan membuat pesawat stall lagi. Prosedurnya adalah: stabilkan dulu, lalu turunkan secara perlahan ke landasan (descending), dan baru mendarat dengan mulus (soft landing).

Habibie menerapkan filosofi yang sama. Ia tidak memaksakan pertumbuhan cepat. Ia fokus pada stabilisasi dulu — restrukturisasi perbankan, pemisahan Bank Indonesia dari pemerintah, pembentukan BPPN, dan jaminan 100% simpanan nasabah. Setelah kepercayaan pulih, baru ekonomi bisa tumbuh lagi.

Hasilnya? Dalam waktu 17 bulan masa jabatannya, rupiah menguat dari Rp 16.800 menjadi Rp 6.500 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi dari -13,13% (1998) menjadi +0,79% (1999). Sebuah soft landing yang cukup impresif untuk seorang presiden yang diragukan kemampuannya di bidang ekonomi.

Catatan penting: Saya perlu meluruskan — pendekatan aerodinamika ini adalah kerangka berpikir yang digunakan Habibie, bukan satu-satunya penyebab pemulihan. Dalam prakteknya, pemulihan 1998-1999 terjadi karena kombinasi berbagai kebijakan konvensional yang juga diterapkan teknokrat lain: kebijakan moneter dan fiskal yang ketat, restrukturisasi perbankan lewat BPPN, pemisahan BI dari pemerintah, jaminan 100% simpanan nasabah, serta dukungan IMF dan komunitas internasional. Sulit memisahkan mana efek dari analogi aerodinamika dan mana efek dari kebijakan standar yang lazim pada masa krisis. Tapi yang menarik, kerangka berpikir Habibie — dengan penekanan pada keseimbangan dan stabilitas — konsisten dengan pilihan-pilihan kebijakannya, dan itu yang membuat pendekatannya unik untuk dicatat.


Bagian 3: Apa Saja Prinsip Fisika Lain yang Bisa Diaplikasikan ke Ekonomi?

Setelah puas dengan penelusuran soal Habibie, saya mulai iseng bertanya ke AI saya: apakah ada prinsip fisika lain yang juga bisa dipakai untuk memahami ekonomi?

Jawabannya mengejutkan saya. Ternyata banyak sekali, dan beberapa bahkan sudah menjadi bagian dari toolkit standar di dunia keuangan dan ekonomi. Yang paling terkenal adalah Gerak Brownian yang menjadi dasar model Black-Scholes untuk penetapan harga opsi saham — sebuah terobosan yang meraih Nobel Ekonomi tahun 1997. Saya sendiri pernah mempelajarinya saat mengambil mata kuliah Matematika Keuangan saat S1 dulu - dan saya bari ingat ini adalah prinsip Fisika.

Saat kuliah magister 2023 lalu, saya seorang rekan saya yang berasal dari Fisika juga membuat tesis tentang model termodinamika yang diaplikasikan ke makro ekonomi Indonesia. Tapi saya tertarik pada lima prinsip yang menurut saya paling menarik dan relevan untuk dibahas di tulisan ini.


Hukum Entropi (Termodinamika II) dan Ekonomi Ekologis

Bayangkan Anda membeli sebongkah batu bara. Batu bara itu mengandung energi kimia yang sangat terkonsentrasi — fisikawan menyebutnya low entropy. Lalu Anda membakarnya untuk menghasilkan listrik. Listriknya dipakai untuk menyalakan lampu dan mesin pabrik.

Pertanyaannya: ke mana perginya energi batu bara itu?

Jawabannya: sebagian menjadi listrik (berguna), tapi sebagian besar menjadi panas buangan, CO2, abu, dan polutan yang menyebar ke atmosfer. Fisikawan menyebut bentuk energi yang sudah terdispersi ini sebagai high entropy.

Dan menurut Hukum Kedua Termodinamika, proses ini ireversibel. Anda tidak akan pernah bisa mengumpulkan kembali CO2 yang sudah menyebar di atmosfer menjadi batu bara lagi. Energinya sudah terdegradasi, selamanya.

Nicholas Georgescu-Roegen, seorang ekonom matematikawan asal Rumania, menuangkan ide ini dalam bukunya The Entropy Law and the Economic Process (1971). Ia berargumen bahwa model ekonomi neoklasik yang menganggap proses ekonomi sebagai sirkuler dan dapat didaur ulang sepenuhnya adalah keliru secara fisika.

Contoh konkret.

Ambil kasus bijih besi. Bijih besi dengan konsentrasi 60% adalah low entropy karena mudah diolah. Setelah dilebur menjadi baja, lalu dibuat mobil, lalu 15 tahun kemudian menjadi rongsokan — baja itu tercampur plastik, karet, cat, dan tembaga. Untuk memurnikannya kembali menjadi baja murni, Anda butuh energi lebih besar dari energi yang tersisa di dalam baja rongsok itu. Ini bukan soal teknologi; ini soal hukum fisika yang tidak bisa dilanggar.

Implikasinya terhadap ekonomi sangat dalam.

Pertumbuhan ekonomi tak-terbatas di planet yang terbatas adalah mustahil secara fisika. Model “tumbuh 5-7% per tahun selamanya” adalah ilusi. Sumber daya alam suatu saat akan habis atau mencapai titik di mana energi yang dibutuhkan untuk mengekstraksinya lebih besar dari energi yang didapat — ini disebut Energy Return on Investment (EROI) yang menurun.

Inilah dasar argumen paling kuat untuk green economy, circular economy, dan bahkan degrowth. Bukan karena tren atau karena keren, tapi karena fisika tidak bisa dibohongi.


Tiga Hukum Newton dalam Makroekonomi

Saya harus mengakui sejak awal: bagian ini adalah yang paling stretch dari seluruh artikel. Tiga Hukum Newton bukanlah model formal dalam ekonofisika seperti Gerak Brownian atau mekanika statistik. Ini lebih sebagai kerangka berpikir intuitif — cara saya meminjam konsep fisika untuk merenungkan dinamika ekonomi.

Hukum Pertama Newton — Kelembaman (Inersia).

Benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan kecuali ada gaya luar yang bekerja padanya.

Dalam ekonomi: ekonomi punya inersia. Begitu berada di jalur pertumbuhan (atau resesi), sulit untuk mengubah arah secara tiba-tiba.

Lihat kasus Indonesia 1998. Meski Habibie segera mengambil kebijakan drastis di minggu-minggu pertamanya, butuh hampir satu tahun bagi ekonomi untuk benar-benar melambatkan penurunannya dan mulai stabil. Ekonomi tidak seperti mobil yang bisa langsung berbelok 90 derajat saat setir diputar. Ada time lag antara kebijakan dan efeknya — biasanya 6 sampai 18 bulan. Inilah kenapa kebijakan counter-cyclical sering terlambat: karena saat gejalanya terlihat, inersia sudah berjalan ke arah yang berlawanan.

Hukum Kedua Newton — F = m × a.

Gaya sama dengan massa dikali percepatan.

Dalam ekonomi: dampak kebijakan tergantung pada struktur ekonomi yang dikenai.

Ambil contoh stimulus fiskal. Pemerintah Amerika Serikat menggelontorkan American Rescue Plan senilai 1,9 triliun dolar pada 2021. Gaya (F) sangat besar. Tapi massa (m) ekonomi AS juga sangat besar — sekitar 23 triliun dolar. Maka percepatan (a) yang dihasilkan hanya sekitar 5-6% pertumbuhan GDP.

Bandingkan dengan negara kecil seperti Timor Leste. Stimulus seratus juta dolar di negara dengan ekonomi kecil akan menghasilkan percepatan yang sangat besar — bisa mencapai double digit growth. Bukan karena kebijakannya lebih baik, tapi karena massanya lebih kecil. Tentu saja penjelasan yang lebih tepat secara ekonomi adalah diminishing returns dan skala ekonomi — pasar besar seperti AS sudah memiliki tingkat pengembalian investasi yang lebih rendah per unit stimulus dibanding negara kecil yang masih “lapar” — tapi analogi massa Newton memberikan intuisi yang sama dengan cara yang lebih visual.

Hukum Ketiga Newton — Aksi-Reaksi.

Setiap aksi ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.

Dalam ekonomi: setiap kebijakan akan memicu respons — baik dari pasar, pelaku ekonomi, maupun negara lain.

Contoh paling gamblang adalah perang dagang AS-China 2018-2019. Ketika Amerika Serikat menaikkan tarif impor barang-barang China (aksi), China membalas dengan menaikkan tarif impor barang-barang AS (reaksi). Keduanya sama-sama rugi — eksportir AS kehilangan akses pasar China, konsumen AS membayar lebih mahal untuk barang impor. Ini aksi-reaksi yang nyaris literal.

Contoh lain: currency war. Ketika satu negara mendevaluasi mata uangnya untuk mendorong ekspor, negara tetangga merespons dengan devaluasi juga. Aksi diperlambat, reaksi menyusul. Hasilnya? Semua negara sama-sama rugi karena efek kompetitifnya saling meniadakan.

Tentu saja, tidak semua reaksi ekonomi bersifat “sama besar dan berlawanan arah” secara simultan seperti dalam fisika. Kadang reaksinya tertunda, asimetris, atau tidak terduga. Tapi poinnya bukan soal ketepatan matematis — ini kerangka berpikir, bukan model. Poinnya adalah kesadaran bahwa tidak ada kebijakan yang terjadi dalam ruang hampa. Seperti dalam fisika, setiap aksi akan menemui konsekuensi.


Hukum Pascal dan Propagasi Krisis

Hukum Pascal adalah prinsip favorit saya dalam artikel ini karena memberikan penjelasan yang sangat elegan tentang bagaimana krisis keuangan global bisa menyebar begitu cepat.

Bunyi Hukum Pascal: Tekanan yang diberikan pada fluida dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar.

Artinya, kalau kita menekan satu titik di fluida (misalnya air dalam pipa tertutup) tekanan itu langsung terasa di semua titik dalam fluida tersebut. Tidak peduli seberapa jauh titik itu dari sumber tekanan.

Sekarang, ganti air dengan uang.

Sistem keuangan global modern adalah fluida dalam ruang tertutup. Bank, institusi keuangan, dana pensiun, dan investor di seluruh dunia saling terhubung melalui pinjaman antar bank, derivatif, credit default swaps, dan investasi silang. Tidak ada sekat yang berarti.

Ketika satu titik gagal (katakanlah Lehman Brothers pada 15 September 2008) tekanannya langsung diteruskan ke seluruh sistem. Mari kita lihat kronologinya.

Langkah 1. Lehman Brothers default dengan utang 619 miliar dolar. Tekanan dimulai di titik A.

Langkah 2. Pasar uang AS macet. AIG, perusahaan asuransi raksasa, butuh bailout 182 miliar dolar karena menjamin obligasi Lehman.

Langkah 3. Tekanan merambat ke Eropa. Dexia dan Royal Bank of Scotland kolaps. Bank-bank di Eropa ternyata punya eksposur besar ke pasar subprime AS.

Langkah 4. Investor global panik dan menjual saham di mana pun. Indeks di seluruh dunia turun 30-50%.

Langkah 5. Negara berkembang seperti Indonesia — yang sama sekali tidak punya masalah subprime mortgage — tetap kena imbasnya. IHSG turun 50%. Ekspor drop. Aliran modal asing keluar besar-besaran.

Yang membuat Hukum Pascal menakutkan adalah frasa sama besar. Artinya, negara yang tidak punya masalah sama sekali bisa terkena dampak seberat negara yang menjadi sumber krisis. Ini bukan soal salah atau benar. Ini soal fisika fluida.

Tentu saja analogi ini tidak sempurna. Dalam sistem keuangan, tidak semua tekanan diteruskan sama besar — ada yang namanya redaman alami atau firewall. Bank sentral bisa menyuntik likuiditas untuk menahan rambatan krisis. Pasar modal punya circuit breaker yang menghentikan perdagangan saat volatilitas ekstrem. Negara bisa menerapkan kontrol modal seperti yang dilakukan Malaysia pada 1998. Jadi, Pascal dalam fluida ideal (incompressible, tanpa hambatan) memang meneruskan tekanan sama besar ke segala arah — tapi sistem keuangan punya redaman, kebocoran, dan sekat yang tidak dimiliki fluida ideal. Meski begitu, esensinya tetap relevan: dalam dunia yang saling terhubung, tidak ada krisis yang benar-benar terlokalisasi. Tekanan di satu titik tetap akan merambat — yang diperdebatkan hanyalah seberapa cepat dan seberapa besar redamannya.

Implikasinya.

Pertama, pentingnya sekat atau firewall. Malaysia di bawah Mahathir pada 1998 menerapkan kontrol modal — ini seperti memasang katup di pipa Pascal untuk mencegah tekanan dari luar masuk.

Kedua, konsep Too Big to Fail. Kalau satu titik terlalu besar tekanannya, seluruh sistem terancam. Makanya pemerintah rela merogoh kocek triliunan untuk bailout.

Ketiga, bank stress test. Regulator harus rutin menguji apakah satu kebocoran di bank A bisa menekan seluruh sistem seperti Pascal.


Mekanika Statistik dan Distribusi Kekayaan

Saya pernah menuliskan artikel yang mirip prinsipnya dengan prinsip fisika ini. Ternyata distribusi uang di masyarakat bisa dijelaskan dengan prinsip yang sama seperti distribusi energi partikel gas dalam fisika.

Konsep dasarnya sederhana.

Dalam fisika statistik, bayangkan sebuah wadah tertutup berisi jutaan partikel gas yang saling bertumbukan secara acak. Setelah cukup lama, energi partikel-partikel ini akan terdistribusi mengikuti pola tertentu yang disebut distribusi Boltzmann-Gibbs. Bentuknya eksponensial: sebagian besar partikel punya energi di sekitar rata-rata, dan semakin tinggi energinya, semakin sedikit jumlah partikel yang memilikinya.

Sekarang, bayangkan masyarakat sebagai wadah dan uang sebagai energi. Manusia saling bertransaksi — jual beli, gajian, belanja — seperti partikel yang saling bertumbukan. Setelah cukup banyak transaksi acak, distribusi uang akan mengikuti pola yang mirip dengan distribusi Boltzmann-Gibbs.

Tapi data menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks.

Ketika fisikawan seperti Victor Yakovenko dan Adrian Drăgulescu meneliti data pendapatan riil di Amerika Serikat pada awal tahun 2000-an, mereka menemukan bahwa distribusi pendapatan sebenarnya terdiri dari dua rezim yang berbeda.

Rezim pertama mencakup sekitar 90-95% populasi — kelas bawah dan menengah. Distribusinya persis seperti Boltzmann-Gibbs: eksponensial, rapi, bisa diprediksi. Ini masuk akal karena sebagian besar orang menerima gaji yang tidak jauh berbeda dari rata-rata (di sekitar UMR), dan transaksi mereka relatif acak dan setara.

Tapi rezim kedua — 5-10% terkaya — mengikuti pola yang berbeda. Mereka mengikuti distribusi Pareto atau power law. Bentuknya ekor panjang (long tail) yang tidak pernah benar-benar mencapai nol. Artinya, selalu ada orang yang kekayaannya ribuan kali lipat dari rata-rata.

Temuan ini mirip dengan tulisan saya sebelumnya terkait distribusi kekayaan menggunakan simulasi agent-based modelling.

Kenapa bisa begitu?

Jawabannya ada pada sifat modal. Orang kaya tidak bertransaksi secara acak seperti partikel gas. Mereka punya akses ke modal, informasi, jaringan, dan instrumen investasi yang tidak dimiliki orang biasa. Mereka bisa membeli aset yang menghasilkan lebih banyak aset. Dan yang paling penting: return on capital hampir selalu lebih besar dari return on labor. Modal menghasilkan lebih cepat daripada gaji.

Inilah yang disebut ekonom Prancis Thomas Piketty sebagai r > g — tingkat pengembalian modal (r) lebih besar dari pertumbuhan ekonomi (g). Selama r > g, konsentrasi kekayaan akan terus membesar. Ini bukan soal moral; ini soal matematika dan fisika.

Apa artinya untuk kebijakan?

Distribusi Boltzmann-Gibbs pada 90% populasi menunjukkan bahwa mekanisme pasar yang relatif bebas dan acak sebenarnya menghasilkan distribusi yang cukup adil untuk sebagian besar orang. Tapi distribusi Pareto pada 10% terkaya menunjukkan bahwa tanpa intervensi, konsentrasi kekayaan cenderung memburuk dengan sendirinya.

Pajak progresif bisa meredistribusi tanpa distorsi besar pada kelompok pertama. Tapi untuk kelompok kedua, dibutuhkan instrumen yang lebih kuat — seperti pajak kekayaan, pajak warisan, atau kebijakan struktural yang mengubah akses terhadap modal.


Teori Perkolasi dan Penyebaran Krisis Keuangan

Ini adalah satu lagi konsep fisika yang memberikan penjelasan intuitif untuk fenomena yang kita saksikan langsung pada 2008 dan berulang pada 2020.

Teori perkolasi pada awalnya dikembangkan untuk memahami bagaimana cairan merembes melalui media berpori seperti batu, pasir, atau spons. Bayangkan batu karang yang punya pori-pori kecil. Kalau pori-porinya sedikit dan tidak saling terhubung, air tidak akan bisa merembes jauh. Tapi kalau pori-porinya cukup banyak dan saling terhubung, air bisa mengalir dari satu sisi batu ke sisi lainnya.

Para fisikawan menemukan bahwa ada ambang kritis — disebut percolation threshold — di mana sistem tiba-tiba berubah dari tidak tembus air menjadi sangat tembus air. Di bawah ambang itu, cluster-cluster kecil terbentuk tapi tidak saling terhubung. Tepat di atas ambang itu, terbentuk cluster raksasa yang menghubungkan seluruh sistem.

Dalam keuangan.

Bayangkan grid yang setiap titiknya adalah bank, perusahaan, atau negara. Koneksi antar titik adalah pinjaman, investasi, derivatif, dan credit default swaps. Pada tingkat interkoneksi yang rendah (di bawah ambang), kalau satu bank gagal, cluster kecil terbentuk tapi tidak menjalar ke seluruh sistem.

Tapi ketika interkoneksi sudah melampaui ambang kritis — dan ini terjadi secara alami seiring globalisasi dan integrasi keuangan — satu kegagalan bisa memicu cluster raksasa yang menjangkiti seluruh sistem. Inilah yang disebut systemic risk.

Mari kita lihat 2008 dalam kerangka perkolasi.

Fase pra-krisis (2000-2006). Globalisasi keuangan meningkat pesat. Bank-bank di seluruh dunia saling menjual mortgage-backed securities (MBS). Koneksi antarbank semakin padat. Kita mendekati ambang kritis, tapi belum ada yang sadar.

Fase 2006-2007. Beberapa kredit subprime mulai gagal. Cluster kecil mulai terbentuk. Tapi masih terlokalisasi — bank A gagal, bank B di negara lain tidak terpengaruh.

Maret 2008. Bear Stearns kolaps dan diakuisisi JP Morgan dengan bantuan Federal Reserve. Cluster membesar. Tapi masih belum raksasa.

September 2008. Lehman Brothers default. Ini adalah titik di mana ambang kritis terlampaui. Dalam hitungan hari, cluster raksasa terbentuk. AIG, Merrill Lynch, Washington Mutual, bank-bank di Eropa — semuanya terseret. Tidak ada yang tersisa kering. Seluruh sistem keuangan global “basah”.

Pelajaran untuk regulator.

Yang menarik, teori perkolasi memberikan kerangka berpikir yang jelas tentang trade-off fundamental dalam keuangan.

Di satu sisi, interkoneksi itu baik. Bank yang saling meminjamkan dan meminjam menciptakan likuiditas dan efisiensi. Integrasi keuangan memungkinkan modal mengalir ke tempat yang paling produktif. Ini argumen klasik pendukung globalisasi.

Tapi di sisi lain, setiap tambahan koneksi meningkatkan network density — mendekatkan sistem ke ambang kritis — dan meningkatkan risiko sistemik. Semakin terhubung suatu sistem, semakin besar potensi cluster raksasa terbentuk saat satu titik gagal.

Ini adalah ironi yang belum punya jawaban mudah. Regulator modern — seperti Federal Reserve, Bank of England, atau Otoritas Jasa Keuangan — sekarang secara rutin mengukur network density sistem keuangan dan menjalankan stress test untuk mengidentifikasi titik-titik yang jika gagal bisa melampaui ambang kritis. Tapi pada akhirnya, tidak ada yang tahu persis di mana ambang itu berada sampai kita melewatinya.


Epilog: Fisika Memberi Bahasa, Bukan Jawaban

Perjalanan dari klaim soal Habibie dan termodinamika telah membawa saya ke tempat yang tak terduga. Dimulai dari verifikasi fakta yang sederhana, saya berakhir dengan eksplorasi lima cabang fisika yang berbeda dan bagaimana semuanya bisa menjelaskan fenomena ekonomi dari sudut pandang yang unik.

Ada satu benang merah yang bisa saya tarik dari semua ini. Fisika tidak memberikan jawaban pasti tentang apa yang harus dilakukan dalam ekonomi. Tapi fisika memberikan bahasa dan kerangka berpikir yang sangat kuat untuk memahami sistem kompleks.

Bahwa ekonomi bukanlah mesin linier yang rapi dengan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Ekonomi adalah sistem yang memiliki inersia, yang bisa mengalami transisi fase tiba-tiba, yang tunduk pada hukum kekekalan dan degradasi, dan yang distribusinya mengikuti hukum-hukum statistik yang mirip dengan partikel gas.

Habibie memilih pendekatan aerodinamika karena itu bahasa yang paling ia kuasai. Ilmuwan lain mungkin memilih entropi, perkolasi, atau mekanika statistik. Semua fisika, hanya lensa yang berbeda.

Yang penting, kita sadar bahwa dunia tidak sesederhana yang terlihat di spreadsheet.


if you find this article helpful, support this blog by clicking the ads.